Update Pengungsi Internal Agustus’25: Krisis kemanusiaan di tengah operasi militer yang berlangsung

Krisis kemanusiaan di Tanah Papua terus berlanjut. Hingga pertengahan Agustus 2025, lebih dari 100.313 orang di Tanah Papua [1] telah menjadi pengungsi internal akibat konflik bersenjata antara pasukan keamanan dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), dan sebagian besar dari mereka belum pulang kampung hingga sekarang. Pengungsian internal baru akibat operasi aparat keamanan dilaporkan terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Yahukimo, Puncak Jaya, dan Pegunungan Bintang. Para pengungsi dari distrik Tangma dan Ukha kembali ke desa mereka pada 10 Juli 2025, setelah pemulangannya difasilitasi oleh Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP).

Pada bulan Juli 2025, Keuskupan Timika menyampaikan keprihatinan serius tentang situasi kemanusiaan yang memburuk di Tanah Papua akibat konflik bersenjata yang semakin meningkat antara aparat keamanan (TNI-POLRI) dan TPNPB. Konflik telah meningkat dengan pasukan keamanan yang menggunakan senjata canggih, termasuk pengeboman udara, mortir, ranjau, dan pesawat tak berawak, serta menargetkan tidak hanya kelompok bersenjata tetapi juga infrastruktur sipil seperti sekolah, rumah sakit, gereja, dan daerah pemukiman warga.

Keuskupan Timika telah menyerukan intervensi kemanusiaan segera, mendesak semua pihak untuk menerapkan jeda kemanusiaan, menghentikan permusuhan di wilayah sipil, dan menciptakan zona bebas perang untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan menjangkau penduduk yang mengungsi. Gereja secara khusus menuntut agar pasukan keamanan menghentikan kebijakan-kebijakan bergaya militer terhadap warga sipil, termasuk pembatasan pertanian dan persyaratan wajib lapor yang mengancam ketahanan pangan. Selain itu, mereka juga menyerukan penangguhan investasi di Tanah Papua, peninjauan ulang izin eksploitasi sumber daya alam, dan kehadiran pemerintah yang tulus untuk menyediakan layanan dasar bagi para pengungsi. Keuskupan menekankan perlunya penyelesaian konflik yang beradab melalui dialog politik dengan mediasi pihak ketiga yang netral, dengan menyoroti bahwa isu-isu yang mendasarinya tidak hanya mencakup kemerdekaan politik tetapi juga masalah-masalah yang berkaitan dengan investasi yang mempengaruhi hak-hak adat masyarakat adat.

Kabupaten Intan Jaya

Situasi di Kabupaten Intan Jaya sejak bulan Juli 2025 ditandai dengan meningkatnya konflik bersenjata antara pasukan keamanan Indonesia dan TPNPB, yang mengakibatkan pengungsian besar-besaran terhadap warga sipil, terutama pada saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Pengungsian paling signifikan terjadi pada tanggal 16 Agustus 2025, ketika operasi keamanan yang melibatkan Satgas 500/Rajawali/Habema menargetkan beberapa desa, termasuk Eknemba, Kusage, Taitawa, Ndugupa, Molemba, dan Zoanbili di Distrik Sugapa. Operasi ini dilaporkan melibatkan pengerahan pasukan berskala besar, termasuk laporan serangan pesawat tak berawak yang membawa bahan peledak, dan mengakibatkan lebih dari 1.000 warga masyarakat adat Papua mengungsi ke hutan dan gua-gua untuk menghindari pasukan keamanan yang mendekat.

Dampak kemanusiaan yang ditimbulkan sangat parah, dengan seluruh desa ditinggalkan karena penduduknya melarikan diri dengan hanya membawa kebutuhan dasar. Pada tanggal 17 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-80, 310 pengungsi (150 perempuan, 90 laki-laki, dan 70 anak-anak) dari Eknemba dilaporkan telah tiba di Desa Yokatapa, sementara kurang lebih 200 pengungsi lainnya tiba di Kota Sugapa. Banyak pengungsi yang masih tersebar di hutan-hutan dalam kondisi yang berbahaya, dengan akses yang terbatas terhadap makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal. Anak-anak dan bayi sangat rentan, dengan laporan demam dan batuk karena terpapar, sementara wanita hamil dan orang lanjut usia berjuang dengan kondisi di kamp-kamp hutan.

Meskipun ada dokumentasi tentang pengungsian oleh para pembela hak asasi manusia dan laporan media, para pejabat militer Indonesia telah menepis laporan-laporan tersebut sebagai “propaganda TPNPB,” dan menyatakan bahwa kehidupan di Intan Jaya terus berlanjut secara normal dan upacara Hari Kemerdekaan berjalan tanpa insiden. Hal ini bertentangan dengan laporan saksi mata dan bukti foto pengungsian massal, yang menyoroti ketidaksesuaian antara pernyataan resmi militer dengan kenyataan yang dihadapi oleh penduduk asli yang terjebak dalam zona konflik. Masyarakat yang mengungsi telah mengeluarkan seruan perdamaian, menyerukan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan operasi militer di Intan Jaya.

Para pengungsi dari Desa Eknemba, Distrik Sugapa, meninggalkan rumah mereka, pertengahan Agustus 2025

Kabupaten Yahukimo

Kabupaten Yahukimo mengalami pengungsian warga sipil yang signifikan pada pertengahan Agustus 2025 karena konflik bersenjata antara pasukan keamanan Indonesia dan TPNPB. Bentrokan dilaporkan terjadi pada tanggal 10 Agustus 2025 dan kembali meningkat secara signifikan antara tanggal 15 dan 16 Agustus. Bentrokan yang berpusat di sekitar lokasi strategis termasuk pos pemeriksaan jembatan Sungai Bonto dan Jalan Gunung di Kota Dekai, menyebabkan warga meninggalkan rumah mereka karena takut akan terjadinya baku tembak antara pihak-pihak yang bertikai.

Skala pengungsian cukup besar. Sekitar 1.890 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, dengan sekitar 227 rumah dalam keadaan kosong di zona konflik. Para pengungsi termasuk kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, orang tua, bayi, dan penyandang disabilitas. Banyak penduduk asli desa mengungsi ke hutan-hutan di sekitarnya untuk menyelamatkan diri, sementara yang lain mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman dan jauh dari zona konflik. Sebagian para pengungsi dilaporkan berkumpul di Gereja GIDI Motulen di Dekai, sedangkan sebagian lain masih bertahan di hutan. Para pengungsi berasal dari distrik Sumo, distrik Endomen,  distrik Duram,  distrik Sela, dan distrik Koropun.

Pembatasan akses yang diberlakukan oleh pasukan keamanan sangat menghambat dokumentasi kemanusiaan dan pengiriman bantuan, terutama di sekitar wilayah Tomon II, di mana dilaporkan terjadi baku tembak. Para pembela hak asasi manusia menghadapi kesulitan untuk mendapatkan angka pengungsian yang lengkap karena terbatasnya akses dan tersebarnya para pengungsi, yang banyak di antaranya masih bersembunyi di daerah hutan. Para pengamat kemanusiaan telah menyerukan akses kemanusiaan ke daerah tersebut, dengan seruan untuk membantu menyediakan makanan dan perawatan medis untuk anak-anak dan wanita hamil di lokasi pengungsian.

Pengungsi dari Yahukimo, Agustus 2025

Distrik Lumo, Kabupaten Puncak Jaya

Pada tanggal 11 Agustus 2025, operasi gabungan aparat keamanan Indonesia dilaporkan terjadi di Distrik Lumo, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah, yang membawa dampaki kemanusiaan bagi para penduduk sipil. Sebagian besar penduduk diduga melarikan diri ke hutan untuk menyelamatkan diri, sementara beberapa orang dilaporkan ditangkap tanpa alasan yang sah. Menurut informasi yang diterima, beberapa anak hilang selama kekacauan tersebut, tanpa adanya proses evakuasi yang komprehensif. Aparat keamanan diiduga membakar rumah-rumah warga sipil di Desa Lumo, dan hanya Gereja GIDI Lumo yang masih berdiri. Aparat keamanan Indonesia telah mengubah bangunan gereja tersebut menjadi pos militer. Operasi militer yang sedang berlangsung ini telah menciptakan krisis kemanusiaan yang mendesak, sehingga mendorong seruan untuk segera memberikan bantuan kepada para pengungsi dari organisasi masyarakat dan kemanusiaan, karena banyak pengungsi yang masih berada di hutan tanpa akses makanan atau layanan dasar lainnya.

Pengungsi dari distrik Lumo meninggalkan rumah mereka pada 11 Agustus 2025

Distrik Oksop, Kabupaten Pegunungan Bintang

Sejak bulan Desember 2024, warga sipil dari Distrik Oksop di Kabupaten Pegunungan Bintang telah meninggalkan rumah mereka karena ada operasi militer yang berlangsung di distrik tersebut. Militer telah menduduki infrastruktur sipil utama, seperti kantor distrik, Gereja GIDI Efesus Sape, dan daerah pemukiman, dan telah mengambil alih atas layanan publik yang seharusnya dikelola oleh otoritas sipil. Pengambilalihan militer ini meluas ke layanan kesehatan, pendidikan, dan distribusi makanan, menciptakan lingkungan militer yang melanggar prinsip pemisahan antara fungsi sipil dan militer sebagaimana dalam demokrasi yang sehat.

Hingga bulan Juli 2025, warga sipil yang mengungsi masih tersebar di empat kamp pengungsian yang terdokumentasi di kawasan hutan di sekitar Distrik Oksop, dan beberapa di antaranya mengungsi ke distrik-distrik tetangga. Pengungsian terbaru dilaporkan terjadi pada tanggal 12 Juli 2025, ketika operasi militer di Desa Alukbakon mengakibatkan pembakaran rumah-rumah warga sipil. Terpaksa para warga terdampak harus mendirikan tempat penampungan sementara di hutan belantara. Para pengungsi ini tidak memiliki akses terhadap makanan, air bersih, layanan medis, dan perlindungan yang memadai, sementara pembatasan militer terhadap rute bantuan telah menghalangi organisasi-organisasi kemanusiaan untuk menjangkau tempat penampungan pengungsi yang terpencil di kawasan hutan.

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Gereja Injili di Indonesia (GIDI) telah menyerukan agar segera ada tindakan. GIDI menuntut agar pasukan militer menghentikan operasi di wilayah sipil, mengosongkan gereja-gereja yang diduduki dan gedung-gedung pemerintah, serta mengizinkan para pengungsi kembali ke rumah mereka dengan aman.

Para pengungsi dari Alutbakon melarikan diri setelah pasukan keamanan membakar rumah-rumah penduduk pada tanggal 16 Juli’25

Kabupaten Puncak

Situasi pengungsi dari Kabupaten Puncak sejak bulan Juli 2025 mencerminkan krisis kemanusiaan yang semakin dalam yang disebabkan oleh meningkatnya konflik bersenjata antara pasukan keamanan Indonesia dan TPNPB. Berawal dari operasi militer berskala besar pada Februari 2025 yang mengerahkan 300 personel dengan menggunakan helikopter, konflik meningkat secara signifikan pada bulan Juli dengan operasi di berbagai distrik, termasuk Omukia dan Gome Utara. Penyisiran ini dilaporkan mengakibatkan pembakaran 21 rumah warga sipil oleh anggota pasukan keamanan, pengungsian ribuan warga, dan pembakaran Kantor Distrik Omukia pada tanggal 6 Juli oleh anggota TPNPB.

Skala pengungsian telah mencapai proporsi yang sangat besar, dengan setidaknya 3.895 orang dari lima distrik terpaksa meninggalkan rumah mereka, termasuk lebih dari 2.500 orang dari Distrik Omukia yang kini tinggal di tenda-tenda pengungsian. Kondisi kemanusiaan sangat memprihatinkan, dengan para pengungsi, menghadapi kekurangan makanan, kurangnya perawatan medis, dan kondisi tidak sehat yang penuh sesak di mana satu tenda dapat menampung 100-150 orang. Krisis ini telah mengakibatkan jatuhnya korban sipil, sementara puluhan desa dilaporkan telah ditinggalkan, dan ratusan anak kehilangan akses pendidikan.

Tanggapan pemerintah tidak memadai, dengan para pengungsi menerima bantuan minimal yang terdiri dari persediaan beras dan mie instan yang terbatas. Ada banyak pengungsi di daerah tetangga termasuk Nabire, di mana para pebngungsi hidup terisolasi dari bantuan pemerintah, sementara yang lain mencari perlindungan di Kota Ilaga, terjebak di kamp-kamp tanpa akses ke lahan pertanian mereka.

Rumah-rumah warga dilaporkan dibakar dalam penyisiran aparat keamanan di Kabupaten Puncak

Pengungsi dari Kabupaten Puncak, 25 Juli 2025

Wilayah Aifat Raya, Kabupaten Maybrat

Sekitar 6.000 warga dari wilayah Aifat di Kabupaten Maybrat masih menjadi pengungsi internal sejak konflik bersenjata antara aparat keamanan Indonesia dan TPNPB pada tahun 2021. Para pengungsi saat ini tersebar di berbagai kabupaten, termasuk Sorong, Tambrauw, dan Bintuni, di mana mereka masih tinggal di kamp-kamp pengungsian karena situasi keamanan belum membaik dan hak-hak dasar mereka sebagai pengungsi belum dijamin secara memadai oleh pemerintah. Para pengungsi bertahan hidup dengan bertani subsisten, mengolah sagu, dan kegiatan lainnya untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk makanan, pendidikan anak-anak, dan perawatan kesehatan. Mereka menghadapi tantangan yang signifikan karena jauhnya jarak dari tanah leluhur dan mata pencaharian mereka.

Meskipun pemerintah memberikan perhatian awal selama masa pengungsian, para pekerja gereja mencatat bahwa dukungan reguler dari pemerintah telah berhenti, sehingga kebutuhan kritis, seperti perawatan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan dukungan ekonomi tidak terpenuhi. Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Katolik Ordo Augustinian di Papua Barat (SKPKC OSA) telah turun tangan untuk menyediakan layanan penting, termasuk layanan kesehatan, program literasi, penyembuhan trauma, dukungan spiritual, infrastruktur air bersih, dan bantuan makanan. Pejabat setempat telah mengakui bahwa beberapa distrik di Aifat belum sepenuhnya pulih.

Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang

Banyak penduduk Distrik Kiwirok di Kabupaten Pegunungan Bintang yang masih mengungsi sejak operasi militer tahun 2021 dan terus menghadapi krisis kemanusiaan. Hingga Juli 2025, para pengungsi tinggal di kamp-kamp hutan dalam kondisi yang memprihatinkan, menderita masalah kesehatan yang meluas, termasuk sakit perut, infeksi mata, masalah gigi, gangguan pernapasan, malaria, demam, dan berbagai penyakit lainnya. Jumlah kematian di antara para pengungsi terus meningkat karena tidak adanya perawatan medis yang layak, makanan, dan layanan penting, sementara pemerintah setempat gagal untuk mengakui atau mengatasi krisis kemanusiaan. Meskipun ada upaya dari relawan tim medis untuk memberikan perawatan terbatas, fasilitas yang tidak memadai dan akses yang terbatas membuat pengungsi di Kiwirok sangat membutuhkan intervensi kemanusiaan.

Situasi keamanan di Kiwirok masih didominasi oleh kehadiran aparat keamanan dengan enam pos militer yang menampung lebih dari seratus personil keamanan, yang terdiri dari pasukan khusus militer (Kopassus), Brimob, dan petugas intelijen. Kehadiran militer yang ekstensif ini, dikombinasikan dengan pengawasan pesawat tanpa awak dan operasi udara, telah menciptakan iklim ketakutan yang terus mendorong penduduk ke tempat persembunyian di hutan di mana mereka hidup dalam trauma yang terus-menerus. Militerisasi ini meluas ke berbagai distrik di Pegunungan Bintang, dengan penempatan serupa di distrik Oksop, Warasamol, dan Diokmot, yang melanggengkan siklus pengungsian yang telah berlangsung di kabupaten tersebut sejak tahun 2021.

Pengungsi dari distrik Kiwirok, Juli’25

Distrik Tangma dan Ukha, Kabupaten Yahukimo

Lebih dari 600 warga dari Distrik Tangma dan Ukha di Kabupaten Yahukimo dilaporkan mengungsi ke kompleks Gereja Kingmi Yeriko Halihalo setelah terjadi bentrokan bersenjata antara aparat keamanan Indonesia dan TPNPB pada 15 Juni 2025. Bentrokan tersebut mengakibatkan tewasnya seorang warga sipil bernama Mesak Asipalek (45), yang tertembak di bagian kepala. Kekerasan tersebut menyebabkan pengungsian sekitar seperempat dari total populasi Distrik Tangma.

Yayasan Keadilan dan Keutuhan Masyarakat Papua (YKKMP) memfasilitasi pemulanagn para pengungsi ke kampung mereka melalui proses perdamaian yang komprehensif yang mencakup negosiasi dan pemasangan baliho yang melarang pertumpahan darah di daerah tersebut. Pada tanggal 10 Juli 2025, YKKMP secara resmi menyatakan bahwa para pengungsi dapat kembali ke rumah. Inisiatif ini mendapat dukungan luas dari tokoh adat, pejabat gereja, dan kepala desa yang mengeluarkan sembilan tuntutan, termasuk penarikan pasukan keamanan non-organik dan pertanggungjawaban atas kematian warga sipil.

Pengungsi dari Tangma dan Ukha berkumpul untuk upacara adat bakar batu sebelum kembali ke rumah pada 19 Juli 2025

Pengungsi di seluruh Papua Barat, Indonesia, per 20 Agustus 2025

KabupatenAngka pengungsiMengungsi sejakInformasi tambahan
Nduga [2]58,9814 Desember 18Pengungsi berasal dari 11 distrik di Nduga; lebih dari 615 pengungsi dilaporkan meninggal per Januari 2022. Pengungsian baru dilaporkan dari Distrik Yugur pada 18 Januari 2025
Puncak [3]2,72427 April 21Setidaknya 16 pengungsi dilaporkan meninggal selama pengungsian
> 3,0003 Juni 24900 rumah tangga dari distrik Agandugume dan Oneri meninggalkan desa mereka
Intan Jaya [4]12,85931 Maret 25Sedikitnya 126 pengungsi menghadapi masalah kesehatan, dan 11 pengungsi dilaporkan meninggal dunia
Maybrat [5]6,0002 September 21Pengungsi berasal dari 5 distrik; 138 pengungsi dilaporkan meninggal dunia, dan Pemerintah setempat dilaporkan telah memfasilitasi pemulangan pengungsi sejak November 2022
Pegunungan Bintang (Distrik Kiwirok) [6]75210 Oktober 21Sekitar 200 IDP mengungsi ke PNG, 96 IDP dilaporkan meninggal di kamp-kamp sejak 25 April, dan puluhan IDP menderita sakit.
Yahukimo (Distrik Suru-Suru) [7]> 80020 November 21Pengungsi dari 13 desa mencari perlindungan di 15 kamp sementara, 16 perempuan melahirkan tanpa bantuan medis, dan 13 pengungsi dilaporkan meninggal.
Yahukimo (Distrik Dekai) [8]55421 Agustus 2313 orang sakit; satu orang meninggal, dan dua orang perempuan meninggal
Pegunungan Bintang (Distrik Oksop) [9]70708 Des. 24Pengungsi berasal dari desa Oketumi, Mimin, Alutbakon, Atenor, dan Bumbakon, termasuk 251 balita, 45 lansia, 10 perempuan hamil, dan sedikitnya enam orang sakit yang membutuhkan perhatian medis. Delapan orang pengungsi meninggal dunia di kamp-kamp antara akhir Desember ’24 dan pertengahan Juni ’25
Nduga (Distrik Kroptak) [10]2,0007 Desember 24Penghitungan pertama menyebutkan 65 balita, delapan ibu hamil, lima orang sakit parah, dan 15 lansia.
Teluk Bintuni (Distrik Moskona Barat) [11]N/A15 Jan 25Satu orang perempuan dilaporkan meninggal di hutan selama pengungsian
Nduga (Distrik Mebarok) [12]N/A18 Jan 25Warga dari sedikitnya sembilan desa mengungsi ke hutan
Puncak (Distrik Pogoma, Sinak, Kembru & Bina) [13]> 2,00012 Feb 25Pengungsi berasal dari distrik Pogoma, Sinak, Bina, dan Kembru
Yahukimo (Distrik Angguruk & Hereapini) [14]N/A24 MaretN/A
Yahukimo (Distrik Dekai dan Seradala) [15]7111 Aprilterdiri dari 13 perempuan, 17 laki-laki, 2 bayi, 20 anak-anak, dan 19 remaja putri.
Jayawijaya (Distrik Maima) [16]N/A9 JuniN/A
Intan Jaya (Hitadipa, Sugapa, dan Agisiga) [17]6.37530 Maret & 18 Juni 25desa-desa yang terkena dampak adalah Zanamba, Jaindapa, Sugapa Lama, Titigi, Ndugusiga, Hitadipa, dan Soagama, sekitar 900 IDP akan kembali pada tanggal 27 Juni 2025
Puncak (Pogoma, Bina & Sinak Barat) [18]ratusan07 Mei 25Para IDP mencari perlindungan di Distrik Sinak
Puncak (Gome & Gome Utara) [19]N/A22 MeiPengungsi dari Mundirok Walen Karu, Tobanggi, dan Ilanggume mengungsi ke Inggernok, Kagago 1, Kagago 2, Kota Ilaga, dan kediaman Bupati Puncak di Gome.
Puncak (Yugumuak) [20]ratusan18 Juni 25N/A
Puncak (Omukia) [21]ratusan24 JuniN/A
Kabupaten Puncak Jaya (Lumo) [22]N/A11 Agustus 25
Pasukan keamanan dilaporkan membakar rumah-rumah penduduk di Desa Lumo hingga rata dengan tanah
Intan Jaya (Suugapa) [23]> 1,00016 AgustusPara pengungsi berasal dari desa Eknemba, Kusage, Taitawa, Ndugupa, Molemba, dan Zoanbili di Distrik Sugapa
Yahukimo (Sumo) [24]1,89015 Agustus 25N/A
T O T A L> 100,313

[1] Istilah ‘Tanah Papua’ dalam makalah ini mengacu pada bagian barat Pulau Nugini, yang terdiri dari provinsi Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya

[2] Disusun oleh sekelompok pembela hak asasi manusia Papua yang mengunjungi para pengungsi dari Nduga di kota Wamena dan sekitarnya pada tanggal 12 dan 20 Juli 2023

[3] Jubi (9.11.2021): SORAKPATOK: 300 tewas dan 50 ribu warga Papua mengungsi, tersedia di: https://jubi.co.id/sorakpatok-300-tewas-dan-50-ribu-warga-papua-mengungsi/&

Jubi (12.07.2024): 500 KK dari Distrik Agandugume dan Oneri, sudah sebulan lebih mengungsi di Sinak, tersedia di: https://jubi.id/polhukam/2024/500-kk-dari-distrik-agandugume-dan-oneri-sudah-sebulan-lebih-mengungsi-di-sinak/

[4] HRD Independen di INtan Jaya, April 2025. CNN Indonesia (30.10.2021): Ribuan Warga Papua Mengungsi Usai Pecah Kontak Senjata, tersedia di: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211030195433-12-714496/ribuan-warga-papua-mengungsi-usai-pecah-kontak-senjata

[5] Sorong News.Com (25.04.2025): 6.000 Warga Maybrat Tercatat Masih Mengungsi, Perbaikan Akses Jalan Jadi target Pemerintah, tersedia di: https://sorongnews.com/6-000-warga-maybrat-tercatat-masih-mengungsi-perbaikan-akses-jalan-jadi-target-pemerintah/

[6] Data jumlah pengungsi dan kematian diperbarui oleh para pekerja gereja yang mengunjungi kamp-kamp pengungsian di Pegunungan Bintang pada bulan April 2025.

[7] Jumlah tersebut berdasarkan data yang dikumpulkan oleh pekerja gereja setempat. Informasi tersebut diterima pada Februari 2022

[8] Jumlah tersebut berdasarkan daftar nama yang dikumpulkan oleh para pembela HAM di Dekai pada bulan September 2023

[9] Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Gereja GIDI dan informan lokal

[10] Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh para pembela HAM di Kroptak. HRM menerima laporan-laporan tersebut pada 18.12.2024

[11] Berdasarkan informasi media yang dipublikasikan pada 13 Januari 2025 dan informasi yang dikumpulkan dari para pembela HAM lokal yang diterima pada 19 Januari 2025

[12] Berdasarkan informasi media yang diterbitkan pada 26 Februari 2025

[13] Berdasarkan informasi media yang dipublikasikan pada 14 Februari 2025 dan informasi yang dikumpulkan dari para pembela HAM lokal yang diterima antara 11 dan 19 Februari 2025

[14] Berdasarkan informasi dari informan lokal dan informasi media yang dipublikasikan pada 23 Maret 2025

[15] Suara Papua (11.04.2025): Dikabarkan Sebanyak 71 Warga Sipil Mengungsi ke Kota Dekai, tersedia di: https://suarapapua.com/2025/04/11/dikabarkan-sebanyak-71-warga-sipil-mengungsi-ke-kota-dekai/

[16] Nolen Wene (16.06.2025): Baru Mengungsi Karena Banjir Masyarakat Di Wamena Mengungsi Lagi Akibat Rentetan Tembakan, tersedia di: https://nokenwene.com/2025/06/10/baru-mengungsi-karena-banjir-masyarakat-di-wamena-mengungsi-lagi-akibat-rentetan-tembakan/

[17] HRM menerima data pengungsi dari dua sumber lokal pada tanggal 5 April 2025 dan Nabire.NET (05.04.2025): Bupati Intan Jaya Salurkan Bantuan Sembako Ke Pengungsi Di Distrik Hitadipa, tersedia di: https://www.nabire.net/bupati-intan-jaya-salurkan-bantuan-sembako-ke-pengungsi-di-distrik-hitadipa/;informatio & informasi terbaru diterbitkan oleh Jubi pada 30 Juni 2025

[18] HRM menerima data pengungsi dari dua sumber lokal antara tanggal 8 dan 18 Mei 2025

[19] HRM menerima data pengungsi dari dua sumber lokal antara 22 dan 28 Mei 2025 dan Papua Daily.Com (24.05.2025) Warga dua kampung di Puncak mengungsi pasca penembakan warga sipil, tersedia di: https://www.papuadaily.com/warga-dua-kampung-di-puncak-mengungsi-pasca-penembakan-warga-sipil/?fbclid=

[20] Papua Bangkit.com (22.06.2025): Sekda Nenu Tabuni Serahkan Santunan Korban Penembakan di Yugumuak dan Bantuan Beras Kepada Pengungsi Sinak – Papua Bangkit tersedia di: https://papuabangkit.com/2025/06/22/sekda-nenu-tabuni-serahkan-santunan-korban-penembakan-di-yugumuak-dan-bantuan-beras-kepada-pengungsi-sinak/ & informasi yang diterima dari informan lokal

[21] Suara Papua (24.06.2024): Operasi Militer Dua Hari, Banyak Rumah Warga Sipil di Distrik Omukia Terbakar, tersedia di: https: //suarapapua.com/2025/06/24/operasi-militer-dua-hari-banyak-rumah-warga-sipil-di-distrik-omukia-terbakar/ & informasi yang diterima dari informan lokal

[22] Kabar Gunung.com (11.08.2025): Operasi Kolonial Militer Indonesia TNI-Polri Terhadap Warga Sipil di Distrik Lumo, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, tersedia di: https://kabargunung.com/konfilik-tni-polri-dan-wpa/operasi-kolonial-militer-indonesia-tni-polri-terhadap-warga-sipil-di-distrik-lumo-kabupaten-puncak-jaya-papua-tengah/ & informasi yang diterima dari informan lokal

[23] Berita Jelata (17.08.2025): https: //jelatanewspapua.com/breaking-news-operasi-militer-dan-penembakan-di-intan-jaya-masyarakat-dua-kampung-mengungsi-ke-hutan/ &

Kabar Gunung (16.08.2025): Kamera Drone Gantung Bom, Pasukan Darat TNI-Polri Kerahkan Kekuatan Besar di Eknemba Zoanbili Kabupaten Intan Jaya Papua Tengah, tersedia di: https://kabargunung.com/ulmwp/kamera-drone-gantung-bom-pasukan-darat-tni-polri-kerahkan-kekuatan-besar-di-eknemba-zoanbili-kabupaten-intan-jaya-papua-tengah/ & informasi yang diterima dari informan lokal

[24] Informasi yang diterima dari informan lokal